Jumat, 24 Januari 2014

Hadiah Pertama dari Lomba Menulis yang Aku Ikuti

Seneng nulis, yah emang sejak SMP udah seneng nulis diary ababil. yang paling marah kalo tiba2 diary itu udah ada di tangan adik. Di sela kesibukanku aku sempatkan buat nulis. Pas pulang ke kampung kemaren waktu lebaran aku melihat 1 halaman di Nova mamaku (eyang, red) Perempuan Inspiratif Nova 2013 , iseng ya itu kata pertama yang muncul. Inspiratif yaaa menurutku kisahku inspiratif bagi diriku sendiri haaa,, lha mau siapa yang memuji kalau tidak diri sendiri #glek. Aku mencuri 1 halaman itu (haaa padahal mamaku ga merasa kehilangan), aku bawa kerumah sampai ke Semarang 1 halaman itu, aku buat tulisan dua halaman tentang diriku sendiri tentang pengalamanku menempuh pendidikan hingga sampai pada jenjang ini, yang "kata orang" level pendidikan tertinggi. Alhamdulillah,, walau kata Mme Ita (dosenku) semua pencapaian sekolah doctor ini yang dikorbankan bukan air mata lagi, tapi berdarah - darah. 
Waktu lagi nunggu dosen buat ngasih kuliah di kelas, tiba – tiba ada sms masuk,
“mbak, ada kiriman dari Nova buat mbak Rizki tapi dirumah tidak ada orang, saya taruh mana?”..
“hah!!! Tabloid Nova?? Tulisanku yang kemarin donk, keterkejutanku saking bahagianya kuungkapkan dalam hati”
“iya mas, terimakasih, titipkan pada mbak Pur rumah kanan depan atau taruh saja di depan pintu”, jawabku pada Mas JNE.
----
sampai rumah, bukan rok baru kain sutra makasar kiriman dari sahabatku Anin lagi yang menjadi pusat perhatianku, tapi mencari bingkisan dari NOVA, aku cari dirumah mbak Rovi belakang rumahpun gak  ketemu, soalnya pak Darsono tetanggaku bilang ditaruh belakang rumah ini saja (rumah mbak Rovi)…
aku panik banget takut hilang, penasaran banget, udah senengnya tak terkira walaupun ibaratnya Cuma dikasih selembar sertifikat sama Nova aja,, ehh ternyata mas nya cerdas, beneran di taruh rumah mbak Pur. Sesaat dalam kebimbanganku, mbak Pur mengetuk pintu rumah ku dan membawakan sebuah bingkisan untukku. Taraaaammm
aku bukaaa,,



M.Pj (Master Penjemput Zakat)
Semoga kisah sedikit yang aku tuliskan ini bisa meginsiprasi kaum wanita pemberani, yang hanya punya mimpi dan tekad yang kuat seperti aku. Namaku Rizky, aku menceritakan pahit manis getir kisah hidupku sendiri. Saat ini umurku 27 tahun. Orang tuaku berprofesi sebagai seorang Guru SMA dan dibantu oleh nenekku yang seorang pesiunan Guru. Aku mempunyai 2 orang adik laki – laki. Masa kecilku hingga SMA aku habiskan di Kota Madiun Jawa Timur. Prestasiku sangat biasa – biasa saja. Tidak pernah aku mendapatkan rangking 10 besar di kelas ketika SD dan SMA, kebetulan SD dan SMA ku termasuk sekolah favorit di Madiun. Namun ketika SMP aku sempat menjadi juara kelas, karena aku tidak bersekolah di sekolah favorit.
Setamat SMA aku melanjutkan kuliah di Semarang. Aku sangat mencintai kota Semarang, bagiku kota ini adalah kota sejuta mimpi. Hanya berbekal percaya diri, keyakinan, kesungguhan aku mendaftar di Universitas Diponegoro Semarang melalui program Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) pada tahun 2004. Aku merantau ke Semarang dengan diantarkan oleh orang tuaku, kami naik bus ekonomi, membawa berbagai macam barang bawaan, baju – baju, buku – buku dan keperluan lain. Sejak aku awal kuliah aku tinggal di rumah Pakdhe dan Budheku,  kebetulan mereka di Semarang sehingga aku tinggal dirumah mereka sampai sekarang.
Akhirnya sampai pada pemilihan jurusan,aku melihat passing grade , untuk jurusan – jurusan seperti Kedokteran Umum, Teknik, Ekonomi jelas – jelas aku tidak punya nyali. Akhirnya aku diterima di Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan Jurusan Perikanan Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan. Prestasiku juga biasa – biasa saja. Hanya kadang aku menjadi 10 besar di kelas. Aku mempelajari tentang hutan mangrove (bakau), pantai, terumbu karang , laut, kolam, tambak, dan ekosistem perairan lainnya. Aku baru tahu ketika kuliah, Indonesia sebagai Negara Maritim ini sangat kurang pengelolaan di bidang perairan, kalau seandainya semua terkelola dengan baik bukan tidak mungkin Indonesia akan mandiri secara ekonomi hingga beberapa tahun kedepan melalui sektor perikanan dan kelautan.
Aku lulus dalam waktu lima tahun. Walaupun tergolong telat lulus, aku sangat bangga dengan skripsi yang kutulis. Aku menulis tentang kaitan mangrove sebagai habitat Gastropoda (keong – keongan) dari sisi biologi dan manfaat nya kepada penduduk sekitar dari sisi ekonomi dan sosial. Juli 2009, akhirnya aku bisa membawa orang tuaku berderet di dalam ribuan orang tua wisudawan. Bangga, haru, bersyukur campur jadi satu.
September 2009, aku diterima bekerja sebagai pramuniaga toko buku yang baru buka di Semarang, sebenarnya pekerjaannya tidak sesuai dengan ijazah S1ku, namun aku berpikir untuk mencari pengalaman, tak apalah bekerja apa saja, walaupun tak sesuai dengan ilmu yang aku pelajari. Namun aku semakin sedih, ketika aku juga harus ikut menyapu lantai toko, mengelap rak buku, mendisplay buku ke raknya dengan cara mendorong – dorong troli isi buku yang sangat banyak. Kepiluan ini itu tak kuceritakan pada keluargaku. Empat bulan aku bertahan, akhirnya Januari 2010 aku memutuskan untuk resign dari toko buku.
Februari 2010, aku diterima bekerja sebagai marketing di sebuah Lembaga Amil Zakat dan Kemanusiaan Nasional cabang Semarang. Sebuah lembaga sosial milik yayasan berpusat di Jakarta yang bertugas untuk mengumpulkan dana zakat, infaq dan shadaqah milik para dermawan yang nantinya akan kami distribusikan kepada yang membutuhkan. Aku bertugas sebagai penjemput zakat dan pencari donatur baru. Aku mendatangi rumah ke rumah, kantor, kampus. Ketika bertugas menjemput zakat seorang dosen di sebuah kampus, tak dipungkiri aku masih punya keinginan kuliah lagi. Padahal gajiku waktu itu hanya cukup untuk kebutuhan sehari – hari. Akhirnya, dengan hanya bermodal nekat, aku mendaftar Beasiswa Unggulan di Magister Ilmu Lingkungan UNDIP. Untuk mengikuti beasiswa ini aku harus lulus tes TOEFL 500, dengan perjuangan 4x tes TOEFL dan menikuti les pengayaan TOEFL akhirnya aku lulus tes TOEFL dan kemudian bisa kuliah dengan Beasiswa Unggulan.
Masalah tak habis sampai disitu, aku harus tetap bekerja karena beasiswaku hanya mengcover kebutuhan SPP saja. Akhirnya, dengan kebijakan kampus aku diperbolehkan mengikuti kuliah Jumat sore dan Sabtu. Bosku di tempat bekerja juga baik sekali, sehingga Senin – Jumat siang aku gunakan untuk bekerja sebagai penjemput zakat. Tak jarang ada orang yang mencibir profesiku. Mahasiswa S2 hanya berprofesi sebagai penjemput uang zakat, mereka bertanya tentang pekerjaanku yang lain, karena dikiranya ini hanya pekerjaan sambilan saja. Namun banyak pula para dermawan yang sudah dekat denganku selalu memotivasiku untuk terus bekerja sambil kuliah. Aku sering mensugesti positif diriku sendiri, pekerjaanku ini juga sangat mulia, bekerja sambil berdakwah dan bisa mendekatkanku dengan teman – teman yang sholeh dan sholehah yang senantiasa mengingatkanku dikala khilaf.
Tahun 2012, Alhamdulillah, dengan segala persyaratan yang berat untuk mencapai ujian tesis, diantaranya menulis wacana di surat kabar nasional sampai terbit, menjadi pemakalah oral dalam Seminar Nasional, menerbitkan salah satu jurnal nasional, aku dinyatakan lulus ujian tesis tiga hari sebelum deadline beasiswa berakhir. Aku benar – benar tak punya uang untuk membayar SPP lagi, jika aku harus kuliah sampai 5 semester.  Aku menyelesaikan kuliah S2ku dalam kurun waktu 1 tahun 11 bulan, lulus dengan predikat Cumlaude, mengantongi IPK 3,85 dan menjadi 3 terbaik wisudawan di Jurusanku.
Esoknya, H+1 setelah wisuda aku kembali bekerja, kebetulan pada waktu itu sedang Idul Qurban. Pada waktu Qurban, kantorku juga menjual kambing dan kemudian mendistribusikannya. Ada dermawan yang juga salah satu sahabatku, dia berkesempatan mengikuti penyembelihan hewan qurban miliknya di tempat penyembelihan yang disediakan oleh kantorku. Dia adalah seorang penulis, sehingga dia mempunyai ide  menuliskan kisahku di blog pribadinya. “Mbak Rizky, Dari Podium Wisuda Pascasarjana Kembali ke Kandang Kambing”. Aku hanya tersenyum membaca tulisannya.
Niatku menjadi seorang pendidik hingga kini tak pernah putus. Agustus 2013, namaku diumumkan oleh Dirjen Dikti sebagai salah satu penerima Beasiswa Pascasarjana Dalam Negeri Calon Dosen. Program ini digulirkan oleh Dikti sejak tahun  2011 untuk menyiapkan para calon dosen yang siap ditempatkan di PTN, PTS dan Universitas yang kekurangan dosen dan Universitas – universitas yang akan dibentuk oleh Dikti. September 2013, aku mulai kuliah lagi di S3 Manajemen Sumberdaya Pantai Universitas Diponegoro dan di sela – sela kuliahku bosku masih mengizikanku untuk bekerja sebagai penjemput zakat. Aku sangat bersyukur dikelilingi oleh orang  - orang, yang selalu memotivasi dan mendukungku dalam segala hal. Walaupun kadang aku merasa kesepian, setua ini aku belum menikah, namun aku tetap semangat mengoptimalkan potensi diriku yang lain, serta terus berdoa, ALLAH pasti akan memberikan jodoh yang terbaik untukku yang senantiasa mendukungku menjadi seorang pendidik seperti Ibu dan Nenekku. 

Minggu, 05 Januari 2014

Melihat Video Ini

Dek Ningrum (sahabat saya di kantor),, seorang yang sangat heboh,, dia suka banget sm lagu ini.. Bryan Mc Knight Marry Your Daughter
Hr ini kantor juga dihebohkan dengan kemuculan ...Video ini .. di watsap akhwat.

simple memang, di video/lagu ini disebutkan ada seorang laki2 yang menemui ayah dari sang wanitanya untuk dipersunting menjadi istri. Si lelaki ini berjanji pd ayah si wanita akan menjadikan wanita satu2nya yang tak pernah dia sakiti dan tak pernah dia tinggalkan dan memberikan yang terbaik untuk segala kebutuhannya. 
Yaaaa.. memang bagus , syiar Islamnya ngena banget, jadi kl mau ngajak nikah wanita ya temuilah ayahnya, mintalah dengan baik2.. Cuma.. ya cuma...
Saya hampir mewek lagi lihat video ini,,
Bukan karena saya mikirin diri saya sendiri,, tapi saya kasihan mikirin pengorbanan calon suami saya nanti, yang harus menemui Ayah saya di tempat yang jauh, dan bagaimana saya menyampaikan pada ayah saya, bagaimana....

Dan saya ngga sanggup mengulang cerita yang sama lagi pada orang lain. Saya tidak ingin memulainya dari nol lagi. Saya ingin ada seorang yang sudah tahu kondisi saya yang nantinya menemui Ayah saya dan berkata.. Sir,, I Will Marry Your Daughter...
walaupun entah bagaimana cara dia menemui ayah saya/memohonkan ijin Ayah saya untuk menjadi wali pertama di pernikahan kami. Saya menginginkan ada seorang pejuang untuk itu...


Semarang, 060114.. Untuk Calon Suami saya,, saya tidak ingin mengulang cerita ini pada orang yang lain lagi... ^^ Temuilah ayah saya dengan pengorbanan anda, saya akan sangat menghargai usaha anda,, mari kita berjuang bersama....