Seneng nulis, yah emang
sejak SMP udah seneng nulis diary ababil. yang paling marah kalo tiba2 diary
itu udah ada di tangan adik. Di sela kesibukanku aku sempatkan buat nulis. Pas
pulang ke kampung kemaren waktu lebaran aku melihat 1 halaman di Nova mamaku
(eyang, red) Perempuan Inspiratif Nova 2013 , iseng ya itu kata pertama yang
muncul. Inspiratif yaaa menurutku kisahku inspiratif bagi diriku sendiri haaa,,
lha mau siapa yang memuji kalau tidak diri sendiri #glek. Aku mencuri 1 halaman
itu (haaa padahal mamaku ga merasa kehilangan), aku bawa kerumah sampai ke
Semarang 1 halaman itu, aku buat tulisan dua halaman tentang diriku sendiri
tentang pengalamanku menempuh pendidikan hingga sampai pada jenjang ini, yang
"kata orang" level pendidikan tertinggi. Alhamdulillah,, walau kata
Mme Ita (dosenku) semua pencapaian sekolah doctor ini yang dikorbankan bukan
air mata lagi, tapi berdarah - darah.
Waktu lagi nunggu dosen buat
ngasih kuliah di kelas, tiba – tiba ada sms masuk,
“mbak, ada kiriman dari
Nova buat mbak Rizki tapi dirumah tidak ada orang, saya taruh mana?”..
“hah!!! Tabloid Nova??
Tulisanku yang kemarin donk, keterkejutanku saking bahagianya kuungkapkan dalam
hati”
“iya mas, terimakasih, titipkan pada mbak Pur rumah kanan depan atau taruh saja di depan pintu”, jawabku pada Mas JNE.
----
sampai rumah, bukan rok baru kain sutra makasar kiriman dari sahabatku Anin lagi yang menjadi pusat perhatianku, tapi mencari bingkisan dari NOVA, aku cari dirumah mbak Rovi belakang rumahpun gak ketemu, soalnya pak Darsono tetanggaku bilang ditaruh belakang rumah ini saja (rumah mbak Rovi)…
aku panik banget takut hilang, penasaran banget, udah senengnya tak terkira walaupun ibaratnya Cuma dikasih selembar sertifikat sama Nova aja,, ehh ternyata mas nya cerdas, beneran di taruh rumah mbak Pur. Sesaat dalam kebimbanganku, mbak Pur mengetuk pintu rumah ku dan membawakan sebuah bingkisan untukku. Taraaaammm
aku bukaaa,,
“iya mas, terimakasih, titipkan pada mbak Pur rumah kanan depan atau taruh saja di depan pintu”, jawabku pada Mas JNE.
----
sampai rumah, bukan rok baru kain sutra makasar kiriman dari sahabatku Anin lagi yang menjadi pusat perhatianku, tapi mencari bingkisan dari NOVA, aku cari dirumah mbak Rovi belakang rumahpun gak ketemu, soalnya pak Darsono tetanggaku bilang ditaruh belakang rumah ini saja (rumah mbak Rovi)…
aku panik banget takut hilang, penasaran banget, udah senengnya tak terkira walaupun ibaratnya Cuma dikasih selembar sertifikat sama Nova aja,, ehh ternyata mas nya cerdas, beneran di taruh rumah mbak Pur. Sesaat dalam kebimbanganku, mbak Pur mengetuk pintu rumah ku dan membawakan sebuah bingkisan untukku. Taraaaammm
aku bukaaa,,
M.Pj (Master Penjemput Zakat)
Semoga
kisah sedikit yang aku tuliskan ini bisa meginsiprasi kaum wanita pemberani,
yang hanya punya mimpi dan tekad yang kuat seperti aku. Namaku Rizky, aku
menceritakan pahit manis getir kisah hidupku sendiri. Saat ini umurku 27 tahun. Orang tuaku berprofesi sebagai seorang Guru SMA dan dibantu oleh nenekku yang seorang
pesiunan Guru. Aku mempunyai 2 orang adik laki – laki. Masa kecilku hingga SMA
aku habiskan di Kota Madiun Jawa Timur. Prestasiku sangat biasa – biasa saja.
Tidak pernah aku mendapatkan rangking 10 besar di kelas ketika SD dan SMA,
kebetulan SD dan SMA ku termasuk sekolah favorit di Madiun. Namun ketika SMP
aku sempat menjadi juara kelas, karena aku tidak bersekolah di sekolah favorit.
Setamat
SMA aku melanjutkan kuliah di Semarang. Aku sangat mencintai kota Semarang,
bagiku kota ini adalah kota sejuta mimpi. Hanya berbekal percaya diri,
keyakinan, kesungguhan aku mendaftar di Universitas Diponegoro Semarang melalui
program Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) pada tahun 2004. Aku merantau
ke Semarang dengan diantarkan oleh orang tuaku, kami naik bus ekonomi, membawa
berbagai macam barang bawaan, baju – baju, buku – buku dan keperluan lain.
Sejak aku awal kuliah aku tinggal di rumah Pakdhe dan Budheku, kebetulan mereka di Semarang sehingga aku
tinggal dirumah mereka sampai sekarang.
Akhirnya
sampai pada pemilihan jurusan,aku melihat passing
grade , untuk jurusan – jurusan seperti Kedokteran Umum, Teknik, Ekonomi
jelas – jelas aku tidak punya nyali. Akhirnya aku diterima di Fakultas
Perikanan dan Ilmu kelautan Jurusan Perikanan Program Studi Manajemen
Sumberdaya Perairan. Prestasiku juga biasa – biasa saja. Hanya kadang aku
menjadi 10 besar di kelas. Aku mempelajari tentang hutan mangrove (bakau),
pantai, terumbu karang , laut, kolam, tambak, dan ekosistem perairan lainnya.
Aku baru tahu ketika kuliah, Indonesia sebagai Negara Maritim ini sangat kurang
pengelolaan di bidang perairan, kalau seandainya semua terkelola dengan baik
bukan tidak mungkin Indonesia akan mandiri secara ekonomi hingga beberapa tahun
kedepan melalui sektor perikanan dan kelautan.
Aku
lulus dalam waktu lima tahun. Walaupun tergolong telat lulus, aku sangat bangga
dengan skripsi yang kutulis. Aku menulis tentang kaitan mangrove sebagai
habitat Gastropoda (keong – keongan) dari sisi biologi dan manfaat nya kepada
penduduk sekitar dari sisi ekonomi dan sosial. Juli 2009, akhirnya aku bisa
membawa orang tuaku berderet di dalam ribuan orang tua wisudawan. Bangga, haru,
bersyukur campur jadi satu.
September
2009, aku diterima bekerja sebagai pramuniaga toko buku yang baru buka di
Semarang, sebenarnya pekerjaannya tidak sesuai dengan ijazah S1ku, namun aku
berpikir untuk mencari pengalaman, tak apalah bekerja apa saja, walaupun tak
sesuai dengan ilmu yang aku pelajari. Namun aku semakin sedih, ketika aku juga
harus ikut menyapu lantai toko, mengelap rak buku, mendisplay buku ke raknya
dengan cara mendorong – dorong troli isi buku yang sangat banyak. Kepiluan ini
itu tak kuceritakan pada keluargaku. Empat bulan aku bertahan, akhirnya Januari
2010 aku memutuskan untuk resign dari toko buku.
Februari
2010, aku diterima bekerja sebagai marketing di sebuah Lembaga Amil Zakat dan
Kemanusiaan Nasional cabang Semarang. Sebuah lembaga sosial milik yayasan
berpusat di Jakarta yang bertugas untuk mengumpulkan dana zakat, infaq dan
shadaqah milik para dermawan yang nantinya akan kami distribusikan kepada yang
membutuhkan. Aku bertugas sebagai penjemput zakat dan pencari donatur baru. Aku
mendatangi rumah ke rumah, kantor, kampus. Ketika bertugas menjemput zakat
seorang dosen di sebuah kampus, tak dipungkiri aku masih punya keinginan kuliah
lagi. Padahal gajiku waktu itu hanya cukup untuk kebutuhan sehari – hari.
Akhirnya, dengan hanya bermodal nekat, aku mendaftar Beasiswa Unggulan di
Magister Ilmu Lingkungan UNDIP. Untuk mengikuti beasiswa ini aku harus lulus
tes TOEFL 500, dengan perjuangan 4x tes TOEFL dan menikuti les pengayaan TOEFL
akhirnya aku lulus tes TOEFL dan kemudian bisa kuliah dengan Beasiswa Unggulan.
Masalah
tak habis sampai disitu, aku harus tetap bekerja karena beasiswaku hanya mengcover kebutuhan SPP saja. Akhirnya,
dengan kebijakan kampus aku diperbolehkan mengikuti kuliah Jumat sore dan
Sabtu. Bosku di tempat bekerja juga baik sekali, sehingga Senin – Jumat siang
aku gunakan untuk bekerja sebagai penjemput zakat. Tak jarang ada orang yang
mencibir profesiku. Mahasiswa S2 hanya berprofesi sebagai penjemput uang zakat,
mereka bertanya tentang pekerjaanku yang lain, karena dikiranya ini hanya
pekerjaan sambilan saja. Namun banyak pula para dermawan yang sudah dekat
denganku selalu memotivasiku untuk terus bekerja sambil kuliah. Aku sering mensugesti
positif diriku sendiri, pekerjaanku ini juga sangat mulia, bekerja sambil
berdakwah dan bisa mendekatkanku dengan teman – teman yang sholeh dan sholehah
yang senantiasa mengingatkanku dikala khilaf.
Tahun
2012, Alhamdulillah, dengan segala persyaratan yang berat untuk mencapai ujian
tesis, diantaranya menulis wacana di surat kabar nasional sampai terbit,
menjadi pemakalah oral dalam Seminar Nasional, menerbitkan salah satu jurnal
nasional, aku dinyatakan lulus ujian tesis tiga hari sebelum deadline beasiswa berakhir. Aku benar –
benar tak punya uang untuk membayar SPP lagi, jika aku harus kuliah sampai 5
semester. Aku menyelesaikan kuliah S2ku
dalam kurun waktu 1 tahun 11 bulan, lulus dengan predikat Cumlaude, mengantongi IPK 3,85 dan menjadi 3 terbaik wisudawan di
Jurusanku.
Esoknya,
H+1 setelah wisuda aku kembali bekerja, kebetulan pada waktu itu sedang Idul
Qurban. Pada waktu Qurban, kantorku juga menjual kambing dan kemudian
mendistribusikannya. Ada dermawan yang juga salah satu sahabatku, dia berkesempatan
mengikuti penyembelihan hewan qurban miliknya di tempat penyembelihan yang
disediakan oleh kantorku. Dia adalah seorang penulis, sehingga dia mempunyai
ide menuliskan kisahku di blog
pribadinya. “Mbak Rizky, Dari Podium
Wisuda Pascasarjana Kembali ke Kandang Kambing”. Aku hanya tersenyum
membaca tulisannya.
Niatku
menjadi seorang pendidik hingga kini tak pernah putus. Agustus 2013, namaku
diumumkan oleh Dirjen Dikti sebagai salah satu penerima Beasiswa Pascasarjana
Dalam Negeri Calon Dosen. Program ini digulirkan oleh Dikti sejak tahun 2011 untuk menyiapkan para calon dosen yang
siap ditempatkan di PTN, PTS dan Universitas yang kekurangan dosen dan
Universitas – universitas yang akan dibentuk oleh Dikti. September 2013, aku
mulai kuliah lagi di S3 Manajemen Sumberdaya Pantai Universitas Diponegoro dan
di sela – sela kuliahku bosku masih mengizikanku untuk bekerja sebagai
penjemput zakat. Aku sangat bersyukur dikelilingi oleh orang - orang, yang selalu memotivasi dan
mendukungku dalam segala hal. Walaupun kadang aku merasa kesepian, setua ini
aku belum menikah, namun aku tetap semangat mengoptimalkan potensi diriku yang
lain, serta terus berdoa, ALLAH pasti akan memberikan jodoh yang terbaik
untukku yang senantiasa mendukungku menjadi seorang pendidik seperti Ibu dan
Nenekku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar