Oleh : Darwis Tere Liye
Siapa di sini yang sering sekali ditanya: "kapan
menikah?"
Ada yang menerima pertanyaan ini dengan
santai, nyengir, tertawa, "Belum dapat
jodohnya." atau "Makanya cariin, dong.", Ada
juga yang menerima pertanyaan ini sedikit
formal, tersenyum tipis, mengangguk pelan,
"Insya Allah segera." Ada juga yang jengkel
sekali menerima pertanyaan ini. Bahkan dalam
titik ekstrem, membuat malas berangkat
kondangan, atau menghadiri acara keluarga--
tempat di mana modus pertanyaan favorit ini
sering muncul. Kenapa orang2 suka sekali
bertanya: "kapan menikah?", "kapan nyusul?"
Kenapa orang2 rese sekali pengin tahu? Kepo?
Siapa di sini yang sering ditanya: "kapan punya
momongan?"
Ada yang menerima pertanyaan ini dengan
santai, nyengir, atau tertawa. Ada yang biasa-
biasa saja, formal. Dan hei, saya harus terus
terang, ada juga yang sepulang dari acara
tersebut, setelah menerima pertanyaan
tersebut, setiba di rumah, langsung berurai air-
mata. Tidak hanya marah, tapi mereka sedih.
Bagi pasangan tertentu, belum memiliki anak
adalah situasi yang berat. Di tanya mertua, di
tanya tetangga, di tanya teman, tidak cukupkah
pertanyaan itu? Banyak pasangan yg bertahun2
belum punya anak, jadi enggan sekali datang ke
resepsi, acara keluarga, atau apa saja yang
memiliki potensi munculnya pertanyaan itu dari
tamu2 undangan lainnya.
Bukankah menikah, jodoh atau memiliki anak,
kelahiran itu rahasia Tuhan? Tentu saja orang
tidak bisa menjawabnya dengan persisi. Tapi
kenapa orang2 masih saja menanyakannya?
Saya sering menyaksikan teman sendiri,
kerabat, kenalan, yang sedih dan jengkel atas
pertanyaan ini. Sayangnya, saya juga tidak tahu
jawaban baik mengatasinya. Honestly, bagi saya
pertanyaan2 itu biasa-biasa saja, tapi adalah
fakta, banyak yang terganggu, bukan? Dan saya
paham rasa terganggu itu.
Tanpa kesimpulan. Maafkan saya, catatan ini
tanpa kesimpulan solusinya.
Tetapi, ijinkan saya menutup notes ini dengan
hal simpel. Kalian pernah datang ke
pemakaman? Pernah datang ke acara
menguburkan kerabat, keluarga? Duhai, di
acara tersebut, kenapa tidak ada seseorang
yang tiba-tiba bertanya ke orang lain, "kapan
nyusul yang mati?" Kenapa tidak ada yang
sambil sumringah, mencoba memecah situasi
dengan percakapan ringan, "hallo om, pak, ibu,
kira-kira kapan nyusul masuk kuburan?"
Nyatanya tidak ada, bukan? Bukankah mati juga
misteri Tuhan? Sama dengan jodoh, kelahiran?
Ini benar2 kekacauan paham yg belum sy
mengerti.
Minggu, 26 Mei 2013
Bertanya kepo.Kapan nikah, kapan punya anak = kapan mati
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar